Selasa, 22 Oktober 2019

Makalah Sosiologi Kehutanan                                                                         Medan,      Oktober  2019

ASPEK-ASPEK SOSIOLOGI MASYARAKAT SUKU OGAN


Dosen Penanggungjawab :
Dr. Agus Purwoko S.Hut., M.Si

 Oleh :
Farah Amnestesia
171201190
Konservasi Sumberdaya Hutan 5











PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERAA UTARA
MEDAN
2019








KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, karena berkat dan kasih karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Paper Sosiologi Kehutanan ini dengan baik. Paper yang berjudul “Aspek-Aspek Sosiologi Masyarakat Suku  Ogan” ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Kehutanan pada Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggungjawab Agus Purwoko, S.Hut., M.Si mata kuliah Sosiologi Kehutanan, yang telah memberikan materi dengan baik dan benar.
Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saran dan kritik dari berbagai pihak dalam upaya untuk memperbaiki isi Makalah ini akan sangat penulis hargai. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.



                    Medan,    Oktober 2019



            Penulis



BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dengan individu lain, individu satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, sehingga terdapat hubungan yang saling timbal balik. Hubungan tersebut dapat terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok. Adapun yang mengemukakan interaksi sosial adalah hubungan dinamis yang mempertemukan orang dengan orang, kelompok dengan kelompok, maupun orang dengan kelompok manusia. Bentuknya tidak hanya bersifat kerjasama, tetapi juga berbentuk tindakan, persaingan, pertikaian dan sejenisnya. Interaksi sosial ialah relasi sosial yang berfungsi menjalin berbagai jenis relasi sosial yang dinamis, baik relasi itu berbentuk antar individu, kelompok dengan kelompok, atau individu dengan kelompok. Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis, yang meliputi hubungan antara orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara perorangan dengan kelompok manusia. 
Perubahan sosial budaya adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Ada perubahan yang pengaruhnya terbatas dan ada pula yang luas serta ada perubahan yang lambat atau cepat. Tidak ada kehidupan masyarakat yang terhenti pada satu titik tertentu sepanjang masa. Perubahan-perubahan tersebut dapat berupa nilai sosial, norma sosial, pola perilaku masyarakat atau lembaga dan yang lainnya. Suatu perubahan sosial yang tejadi sekecil apapun mungkin akan berakibat pada struktur kehidupan masyarakat yang lainnya, misalnya pada perubahan gaya berpakaian akan menghasilkan akibat pada ekonomi masyarakat, karena suatu model yang trend akan senantiasa diikuti masyarakat yang menyenangi model-model pakaian yang terbaru. 
Salah satu unsur kebudayaan yaitu sistem kemasyarakatan yang meliputi sistem kekerabatan, oraganisasi politik, sistem hukum dan sistem perkawinan. Dalam unsur kemasyarakatan ini termasuklah sistem perkawinan yang dimiliki oleh masyarakat diseluruh dunia termasuk yang ada di sub-sub suku bangsa di Indonesia. Salah satunya yaitu sub suku Sumatera Selatan yaitu suku Ogan, masyarakat ogan adalah suku asli dari masyarakat yang mendiami daerah Ogan Komering ulu Baturaja Sumatera Selatan. Masyarakat ogan tersebar dibeberapa daerah salah satunya desa Singapura Kecamatan Semidang Aji. Dalam hal pelaksanaan pernikahan suku ini mempunyai ketentuan dan tata caranya sendiri yang sudah barang pasti tidak sama dengan suku-suku lainnya.

1.2 Rumusan Masalah
      1. Bagaimana interaksi sosial suku ogan?
      2. Bagaimana kelompok sosial suku ogan?     
      3. Bagaimna norma-norma yang ada di suku ogan?
      
      4. Bagaimana kelembagaan sosial suku ogan?      
      5. Bagaimana struktur sosial masyarakat suku ogan?      
      6. Bagaimana perubahan sosial masyarakat suku ogan?


1.3 Tujuan
      1. Untuk mengetahui interaksi sosial suku ogan.
      2. Untuk mengetahui kelompok sosial suku ogan.
      3. Untuk mengetahui norma-norma yang ada di suku ogan.
      4. Untuk mengetahui kelembagaan sosial suku ogan.
      5. Untuk mengetahui struktur sosial masyarakat suku ogan.
      6. Untuk mengetahui perubahan sosial masyarakat suku ogan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Interaksi Sosial Suku Ogan
Bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang berasal dari bermacammacam suku, keanekaragaman budaya tersebut harus senantiasa dilestarikan agar tidak hilang seiring dengan kemajuan zaman, karena budaya merupakan kekayaan suatu bangsa yang tak ternilai harganya. Hubungan antara sesama masyarakat juga harus dijaga dengan baik, karena manusia adalah mahkluk sosial yang selalu hidup berkelompok, bersama-sama, berkomunikasi, saling berhubungan satu sama lain, dan saling membutuhkan. Setiap individu memang merupakan suatu subjek yang berdiri sendiri, tetapi ia tidak dapat hidup seorang diri, dia hidup di tengah-tengah lingkungan, di tengah kaum, suku dan bangsanya. 
Sebagian lain masayarakat Ogan komering Ulu di daerah ini bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil, guru, buruh dan wiraswasta. Budaya daerah sebagai akar dari kebudayaan nasional perlu dilestarikan dan dikembangkan, namun pada dasawarsa ini masyarakat sudah mengenal banyak hal di luar kebudayaannya sendiri, sehingga kadangkala membuat mereka lupa akan tradisi leluhurnya. Dengan adanya interaksi dengan masyarakat yang berbeda budaya, maka satu sama lain akan saling membaur dan menyesuaikan, karena lingkungan juga memberikan kontribusi yang besar bagi eksistensi sebuah warisan budaya.
Untuk mempererat ikatan di antara sesama masyarakat suku Ogan Komering Ulu, serta untuk terus melestarikan budaya nenek moyang suku Ogan Komering Ulu, diperlukan adanya suatu perkumpulan yang dapat menjadi sarana komunikasi serta dapat membina kerukunan antara sesama anggota masyarakat suku Ogan Komering Ulu di Kabupaten Lampung Utara. Dalam kehidupan bermasyarakat, sudah sering terdengar istilah organisasi yang memiliki program kerja jangka panjang selama lima tahun, kegiatan yang tercantum dalam program kerja tersebut diadakan sebagai upaya mencapai tujuannya yaitu sebagai sarana komunikasi bagi masyarakat Ogan komering Ulu yang berdomisili di Kabupaten Lampung Utara. 

2.2 Kelompok Sosial Suku Ogan
Masyarakat pada kesatuan manusia tentunya memiliki ikatan-ikatan seperti interaksi di antara warganya, adanya ikatan adat istiadat khas dalam kehidupannya dan berlangsung terus menerus, adanya rasa identitas antar warga, adanya norma-norma atau hukum dan aturan yang khas yang mengatur seluruh pola perilaku warganya. Koentjaraningrat mendefinisikan masyarakat sebagai kesatuan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat terus-menerus dan yang terikat oleh suatu rasa identitas yang sama. Hal yang senada juga diungkapkan oleh Suprapto bahwa masyarakat adalah sekelompok manusia yang telah lama bertempat tinggal di suatu daerah tertentu yang mempunyai aturan yang mengatur tata hidup mereka, untuk menuju kepada tujuan yang sama. Empat kriteria yang perlu dipenuhi agar suatu kelompok dapat disebut masyarakat yaitu, kemampuan bertahan melebihi masa hidup seorang individu, rekrutment seluruh anggota atau sebagian anggota melalui reproduksi, kesetiaan pada suatu “sistem tindakan utama bersama”, dan adanya sistem tindakan utama yang bersifat swasembada
Masyarakat adalah suatu sistem dari suatu kebiasaan dan tata cara, dari wewenang dan kerjasama antara berbagai kelompok dan penggolongan dari pengawasan tingkah laku serta kebebasan- kebebasan manusia. Hal lain juga dikemukan oleh J.L Gillin dan J.P Gillin dalam buku Sosiologi Skematika, teoro dan terapan yang diterjemahkan oleh Abdul sani, menyatakan bahwa masyarakat merupakan kelompok yang terbesar dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama. Maka dapat disimpulkan bahwa masyarakat ialah sekelompok manusia yang tinggal dan menetap disuatu wilayah tertentu dan memiliki kesamaan dalam hal kebiasaan serta senantiasa berinteraksi satu sama lain. Salah satu masyarakat di Indonesia adalah masyarakat di sumatera Selatan. Masyarakat atau penduduk Sumatera Selatan terdiri dari beberapa macam suku, salah satunya adalah masyarakat ogan. Masyarakat ogan adalah masyarakat yang berdiam di desa-desa sepanjang aliran sungai ogan mulai dari hulu sampai muara sungai ogan. 
Masyarakat ogan dikelompokan menjadi dua yaitu masyarakat ogan ulu dan masyarakat ogan ulakan. Masyarakat ogan ulakan adalah masyarakat yang mendiami daerah sepanjang aliaran suangai ogan yang berada dihilir seperti daerah Lubuk batang dan peninjauan. Masyarakat Ogan ulak ini sudah mendapatkan pengaruh budaya dari masyarakat yang beradat Komering dan Palembang. Sedangkan Masyarakat Ogan Ulu adalah masyarakat yang mendiami daerah sekitaran hulu hulu sungai ogan yaitu daerah pengandonan dan semidang aji. Pada kehidupan sehari-hari masyarakat Ogan ulu telah banyak mendapat pengaruh masyarakat semendo yang tinggal tidak berjauhan dari lokasi masyarakat ogan ulu yakni di daerah Tanjung Enim.

2.3 Norma Masyarakat Ogan 
Kebudayaan meliputi segala manifestasi dari kehidupan manusia yang berbudi luhur dan yang bersifat rohani, seperti agama, kesenian, filsafat, ilmu pengetahuan, tata negara dan lain sebagainya. Kebudayaan juga diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang dan setiap kelompok orang, dimana manusia tidak hidup begitu saja di tengah alam, namun berusaha mengubah alam itu. Di dalam pengertian kebudayaan juga terdapat tradisi, yang merupakan pewarisan berbagai norma, adat istiadat dan kaidah-kaidah. Namun tradisi bukanlah sesuatu yang tidak bisa diubah, tradisi justru terpadu dengan berbagai perbuatan atau tindakan manusia dan diangkat dalam keseluruhannya. 
Kebudayaan sebagai mekanisme kontrol bagi kelakuan dan tindakan manusia sebagai pola-pola kelakuan manusia. Selanjutnya dapat dijelaskan pula bahwa kebudayaan merupakan pengetahuan yang diyakini kebenarannya oleh yang bersangkutan dan yang diselimuti perasaan-perasaan manusia serta menjadi sistem nilainya. Hal itu terjadi karena kebudayaan diselimuti oleh nilai-nilai moral yang bersumber dari nilai-nilai yang pandangan hidup dan sistem etika yang dimiliki manusia. Setiap manusia dan masyarakat yang mendiami daerah tertentu mempunyai suku dan adat istiadat serta kebudayaan sendiri. Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki keanekaragaman suku bangsa dan keanekaragaman kebudayaan yang akan menjadi modal dasar sebagai landasan pengembangan budaya bangsa yang ada di Indonesia. Kehidupan berkeluarga terjadi lewat perkawinan yang sah, baik menurut hukum agama maupun ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Dari sini akan tercipta kehidupan yang harmonis, tentram, dan sejahtera lahir batin yang didambakan oleh setiap insan yang normal.

2.4 Kelembagaan Sosial Suku Ogan
Bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman budaya yang berasal dari bermacammacam suku, keanekaragaman budaya tersebut harus senantiasa dilestarikan agar tidak hilang seiring dengan kemajuan zaman, karena budaya merupakan kekayaan suatu bangsa yang tak ternilai harganya. Hubungan antara sesama masyarakat juga harus dijaga dengan baik, karena manusia adalah mahkluk sosial yang selalu hidup berkelompok, bersama-sama, berkomunikasi, saling berhubungan satu sama lain, dan saling membutuhkan. Setiap individu memang merupakan suatu subjek yang berdiri sendiri, tetapi ia tidak dapat hidup seorang diri, dia hidup di tengah-tengah lingkungan, di tengah kaum, suku dan bangsanya. Di wilayah Provinsi Lampung tidak hanya dihuni oleh masyarakat suku Lampung, tetapi juga masyarakat dari suku-suku lainnya, salah satunya adalah suku Ogan Komering Ulu. Suku Ogan Komering Ulu tersebut berasal dari Kabupaten Ogan Komering Ulu dengan Ibukotanya Baturaja. Salah satu wilayah Lampung yang banyak terdapat masayarakat Ogan Komering Ulu adalah Kabupaten Lampung Utara. 
Dengan adanya interaksi dengan masyarakat yang berbeda budaya, maka satu sama lain akan saling membaur dan menyesuaikan, karena lingkungan juga memberikan kontribusi yang besar bagi eksistensi sebuah warisan budaya. Untuk mempererat ikatan di antara sesama masyarakat suku Ogan Komering Ulu, serta untuk terus melestarikan budaya nenek moyang suku Ogan Komering Ulu, diperlukan adanya suatu perkumpulan yang dapat menjadi sarana komunikasi serta dapat membina kerukunan antara sesama anggota masyarakat suku Ogan Komering Ulu di Kabupaten Lampung Utara. Pada tanggal 20 Oktober 1994, didirikanlah Ikatan Keluarga Sebimbing Sekundang sebagai sarana komunikasi bagi masyarakat Ogan Komering Ulu yang berdomisili di daerah Lampung. Ikatan Keluarga Sebimbing Sekundang memiliki program kerja jangka panjang selama lima tahun, kegiatan yang tercantum dalam program kerja tersebut diadakan sebagai upaya mencapai tujuannya yaitu sebagai sarana komunikasi bagi masyarakat Ogan komering Ulu yang berdomisili di Kabupaten Lampung Utara.

2.5 Struktur Sosial Masyarakat Suku Ogan
 Dalam struktur sosial masyarakat suku ogan, Masyarakat ogan adalah masyarakat yang berdiam di desa-desa sepanjang aliran sungai ogan mulai dari hulu sampai muara sungai ogan. Masyarakat ogan dikelompokan menjadi dua yaitu masyarakat ogan ulu dan masyarakat ogan ulakan. Masyarakat ogan ulakan adalah masyarakat yang mendiami daerah sepanjang aliaran suangai ogan yang berada dihilir seperti daerah Lubuk batang dan peninjauan. Masyarakat Ogan ulak ini sudah mendapatkan pengaruh budaya dari masyarakat yang beradat Komering dan Palembang. Sedangkan Masyarakat Ogan Ulu adalah masyarakat yang mendiami daerah sekitaran hulu hulu sungai ogan yaitu daerah pengandonan dan semidang aji. Pada kehidupan sehari-hari masyarakat Ogan ulu telah banyak mendapat pengaruh masyarakat semendo yang tinggal tidak berjauhan dari lokasi masyarakat ogan ulu yakni di daerah Tanjung Enim. Masyarakat Ogan Ulu hidup tersebar ditiga kecamatan yakni kecamatan Ulu Ogan, Pengandonan dan Semidang Aji. 
Masyarakat Ogan Sumatera Selatan memliki beragam pola perkawinan adat yang masih dipakai hingga saat ini, meskipun masyarakat ogan Sumatera Selatan secara umum merupakan masyarakat yang menganut sistem patrilineal namun mereka juga mempunyai pola perkawinan yang menganut sistem matrilineal dan parental. Pola perkawinan yang dimiliki oleh masyarakat ogan merupakan warisan yang diturunkan nenek moyang mereka terdahulu. Masyarakat ogan memiliki 3 pola perkawinan yang berbeda beda kegunaannya, pola yang mereka miliki antara lain: a. Pola Perkawinan Belaki, b. Pola Perkawinan Kambek Anak, dan c. Pola Perkawinan Senak Anak. 
Jadi dari uraian diatas dapat disimpulkan masyarakat ogan mempunyai 3 pola perkawinan. Pola perkawinan yang dimiliki oleh masyarakat ogan ini tidak hanya mengatur tentang tempat tinggal setelah menikah atau kedudukan dari kedua mempelai tetapi juga mengatur tentang hak waris seorang anak dalam keluarga setelah menikah. Pola perkawinan ini sudah sepatutnya untuk dilestarikan agar tetap bisa dinikmati oleh generasi masyarakat ogan yang akan datang.

2.6 Perubahan Sosial Masyarakat Suku Ogan
Perubahan sosial masyarakat sebagai akibat dari perkembangan jaman juga turut mempengaruhi dinamika budaya yang ada. Baik perubahan bentuk maupun fungsi dari budaya itu sendiri. Contohnya adalah perpindahan penduduk atau migrasi. Migrasi ini mau tidak mau mengharuskan manusia untuk pindah ke tempat yang baru dan beradaptasi lagi dengan kebudayaan masyarakat setempat yang sudah ada. Dimulai dengan saling berinteraksi, kemudian terjadi proses transfer informasi mengenai kebudayaan masingmasing maka terjadilah apa yang namanya pembauran kebudayaan. Bicara tentang perubahan-perubahan sosial yang berarti membicarakan perubahan dalam masyarakat. Dimana setiap masyarakat atau manusia selama hidupnya pasti mengalami suatu perubahan. Tidak ada masyarakat yang tidak mengalami perubahan, sebab kehidupan sosial adalah dinamis. Perubahan tersebut dapat berupa perubahan yang tidak menarik dalam arti kurang mencolok. 
Ada pula perubahan-perubahan yang pengaruhnya terbatas maupun yang luas, serta ada pula perubahan-perubahan yang lambat sekali, tetapi ada juga yang berjalan cepat. Berbicara tentang perubahan, kita membayangkan sesuatu yang terjadi setelah jangka waktu tertentu; kita berurusan dengan perbedaan keadaan yang diamati antara sebelum dan sesudah jangka waktu tertentu yang dimana segala perubahan-perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap, dan pola-pola perilaku diantara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perubahan merupakan sesuatu yang terjadi didalam masyarakat yang disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebutlah yang dapat mempengaruhi lembaga-lembaga yakni struktur maupun sistem sosial masyarakat seperti nilai-nilai, norma-norma, sikap dan pola perilaku sehingga terjadi sebuah perubahan.  
 Perubahan struktur sosialnya yaitu pola mata pencaharian masyarakatn, pola perilaku masyarakat serta gaya hidup masyarakat. Perubahan mata pencaharian yang awalnya mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani namun sekarang telah berkembang di sektorsektor lain seperti bekerja sebagai buruh pabrik, pedagang, pegawa negeri, dan lain sebagainya. Perubahan pola perilaku masyarakat ogan yaitu positifnya, perilaku saling menghormati antar pemeluk agama di dalam masyarakat antar beda budaya  dan adat dan juga negatifnya, menurunnya rasa saling menolong atau kegotongroyongan didalam kehidupan bermasyarakat sedangkan dalam hal gaya hidup (life style) terjadi perubahan konsumsi peralatan hidup pada masyarakat suku ogan. Seiring perkembangan zaman, gaya hidup masyarakat dalam hal peralatan-peralatan modern seperti penggunan alat elektronik meningkat sangat pesat.
 Di dalam suatu masyarakat yang terjadi suatu proses perubahan terdapat faktor-faktor yang mendorong jalannya perubahan yang terjadi dan faktor-faktor tersebut adalah antara lain, kontak dengan budaya lain, Sistem pendidikan formal yang maju, sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan untuk maju, adanya toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang, penduduk yang heterogen, ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang kehidupan tertentu, adanya orientasi masa depan, dan adanya nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk memperbaiki kehidupannya. 

                              

       BAB III
    PENUTUP

Kesimpulan
1.      Interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dengan individu lain, individu
       satu dapat mempengaruhi individu yang lain atau sebaliknya, sehingga terdapat             
       hubungan yang saling timbal balik.
2.    Masyarakat ogan dikelompokan menjadi dua yaitu masyarakat ogan ulu dan        
       masyarakat ogan ulakan.
3.    Perubahan struktur sosialnya yaitu pola mata pencaharian masyarakatn, pola   
       perilaku masyarakat serta gaya hidup masyarakat. 
4.    Faktor yang dapat mempengaruhi lembaga-lembaga yakni struktur    
       maupun sistem sosial masyarakat seperti nilai-nilai, norma-norma, sikap dan pola    
       perilaku sehingga terjadi sebuah perubahan.  
5.    Masyarakat Ogan Ulu hidup tersebar ditiga kecamatan yakni kecamatan Ulu Ogan, 
       Pengandonan dan Semidang Aji. 



  DAFTAR PUSTAKA



Apriani, A. dkk. 2016. Perubahan Sosial di Desa Pegayut Kecamatan Pemulutan 
            Kabupaten Ogan Ilir Tahun 1999-2014: Sumbangan Materi Pembelajaran 
            Sejarah Kelas X SMK Negeri 1 Pemulutan. Universitas Sriwijaya. Jurnal
            Criksetra, Volume 5 : (9).                           

Arikunto Suharsimi,. 2006. Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik): Jakarta:
            Rineka Cipta. Hal 130. 

Bagong Suyanto dan Sutinah. 2005. Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif  
             Pendekatan. Jakarta: Kencana Hal 47. 

Budiono Herusutoto. 2011. Mitologi Jawa. Yogyakarta : Oncor Semesta Ilmu. 
            Halaman  15.

Sztompka, Piotr. 2010. Sosiologi Perubahan Sosial. Jakarta: Prenada Media Group.

Kamis, 11 April 2019

PEMANFAATAN EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN

Paper Ekonomi Sumberdaya Hutan                                                                        Medan,    April 2019 




PEMANFAATAN EKONOMI SUMBERDAYA HUTAN
(DAMAR) 



Dosen Penanggung Jawab: 
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M,Si 


Disusun Oleh: 
Farah Amnestesia 
 171201190 
Hut 4C 












 PROGRAM STUDI KEHUTANAN 
FAKULTAS KEHUTANAN 
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 
MEDAN 
2019 





KATA PENGANTAR 




        Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya. 
    Adapun paper ini yang berjudul “Pemanfaatan Ekonomi SumberDaya Hutan”. Paper ini merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti mata kuliah Ekonomi SumberDaya Hutan, Progaram Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara. 
         Dalam penulisan paper ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen penanggung jawab Dr. Agus Purwoko, S.Hut, M.Si yang telah memberikan pelajaran dan bimbingannya. Dan dalam penulisan paper ini, penulis menyadari bahwa paper ini belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan paper ini. 
          Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini. Semoga laporan ini dapat menjadi sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan. 




 Medan, April 2019 




                                                                                                                                            Penulis



                                                                

                                                            DAFTAR ISI 




 Halaman 


KATA PENGANTAR .......................................................................................................................... i 

BAB I PENDAHULUAN 
          1.1 Latar Belakang ..................................................................................................................... 1 
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................................ 2 
 1.3 Tujuan .................................................................................................................................. 2 

BAB II ISI 
2.1 Sejarah Perkembangan Pohon Damar .................................................................................. 3 
2.2 Manfaat Damar ..................................................................................................................... 6 
2.3 Bentuk Manfaat Ekonomi yang dihasilkan Damar .............................................................. 7 

BAB III PENUTUP 
 3.1 Kesimpulan ......................................................................................................................... 10 

DAFTAR PUSTAKA 




                                                           BAB I 

                                                  PENDAHULUAN 



1.1 Latar Belakang 
         Hutan adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan pemerintah sebagai hutan. Jika pengertian hutan ditinjau dari sudut pandang sumberdaya ekonomi terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi, yaitu: lahan, vegetasi bersama semua komponen hayatinya serta lingkungan itu sendiri sebagai sumberdaya ekonomi yang pada akhir-akhir ini tidak dapat diabaikan. Sedangkan kehutanan diartikan sebagai segala pengurusan yang berkaitan dengan hutan, mengandung sumberdaya ekonomi yang beragam dan sangat luas pula dari kegiatan-kegiatan yang bersifat biologis seperti rangkain proses silvikultur sampai dengan berbagai kegiatan administrasi pengurusan hutan. Hal ini berarti kehutanan sendiri merupakan sumberdaya yang mampu menciptakan sederetan jasa yang bermanfaat bagi masyarakat. Hasil hutan juga jelas merupakan sumberdaya ekonomi potensial yang beragam yang didalam areal kawasan hutan mampu menghasilkan hasil. 
           Sebagai sumber penghidupan belum terakomodasi dengan baik mengingat tujuan pengelolaan kawasan hutan oleh pemerintah adalah untuk kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya yang arif dan berkelanjutan. Pengelolaan kawasan hutan yang mengikutsertakan masyarakat dan aturan pengelolaan lokal yang telah lama digunakan atas sumberdaya alam yang tinggal disekitar kawasan hutan merupakan salah satu solusi pengelolaan hutan yang baik karena masyarakat adalah pemberi informasi yang baik tentang bagaimana sumberdaya digunakan. Sumberdaya hutan dapat dikelola dengan tetap menjaga kelestarian melalui pengelolaan yang mengikutsertakan masyarakat lokal dengan pengakuan hak oleh pemerintah terhadap pengelolaan sumberdaya. Pengelompokkan sumberdaya berdasarkan pemanfaatan dan penggunaan untuk menetapkan pengelolaan sumberdaya sebagai suatu barang yaitu milik umum, penggunaan bersama, kepemilikan pribadi, milik pemerintah dan memanfaatkan sumberdaya yang ada didalam kawasan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup. 
      Pemanfaatan hutan secara berlebihan menyebabkan ribuan hektar lahan hutan dilaporkan mengalami berbagai kerusakan. Untuk menjaga kelestarian hutan akibat kegiatan penambangan, konversi lahan, dan penebangan hutan, maka perlu diiringi dengan kegiatan rehabilitasi. Kondisi tanah yang kompak karena pemadatan dapat secara langsung berdampak negatif terhadap fungsi dan perkembangan akar. Akar tidak dapat berkembang dengan sempurna dan fungsinya sebagai alat absorpsi unsur hara akan terganggu. Akibatnya tanaman tidak dapat berkembang dengan normal, pertumbuhannya tetap kerdil dan merana atau mengalami stagnasi. Lateral Root Manipulation (LRM) adalah salah satu teknik untuk mengatasi tanaman stagnan. Teknik ini dilakukan dengan cara pemotongan akar lateral yang dikombinasikan dengan perlakuan pemupukan. Teknik ini berfungsi untuk merangsang pertumbuhan akar baru yang akan menyerap air dan unsur hara sehingga tanaman dapat bermetabolisme normal dan tumbuh kembali. 
       Damar secara alami tersebar di Papua Nugini, Britania Baru, Indonesia (Maluku, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, Papua), Filipina, dan Malaysia. Kayunya juga memiliki kualitas yang cukup tinggi untuk vinir kayu lapis, pulp, korek api, dan perabot rumah tangga. Damar dapat menghasilkan resin (kopal) sebagai bahan pelitur dan minyak pelapis lantai. Benih damar tergolong semi rekalsitran sehingga tidak dapat disimpan lama. Oleh sebab itu perbanyakan secara generatif sulit dilakukan. Teknik perbanyakan secara vegetatif dapat dilakukan untuk membantu memperbanyak tanaman yang memiliki kesulitan dalam memperoleh buah dan biji, dan benihnya tergolong rekalsitran. 

1.2 Rumusan Masalah
      1. Bagaimana sejarah perkembangan Pohon Damar? 
      2. Apa manfaat dari Tanaman Damar? 
      3. Apa bentuk manfaat ekonomi yang dihasilkan Damar? 

1.3 Tujuan 
      1. Untuk dapat mengetahui sejarah perkembangan Pohon Damar 
      2. Untuk dapat mengetahui manfaat dari Tanaman Damar 
      3. Untuk dapat mengetahui bentuk manfaat ekonomi yang dihasilkan oleh Damar 





                                                                 BAB II                                                                                                                            ISI 



 2.1 Sejarah Perkembangan Pohon Damar 
        A.  Taksonomi 
              Kingdom: Plantae (Tumbuhan) 
              Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) 
              Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji) 
              Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) 
              Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) 
              Sub Kelas: Dilleniidae 
              Ordo: Theales 
              Famili: Dipterocarpaceae 
              Genus: Shorea Spesies: Shorea hopea 

B. Habitat 
   Pohon yang besar, tinggi hingga 65m; berbatang bulat silindris dengan diameter yang mencapai lebih dari 1,5 m. Pepagan luar keabu-abuan dengan sedikit kemerahan, mengelupas dalam keping-keping kecil. Daun berbentuk jorong, 6–8 × 2–3 cm, meruncing ke arah ujung yang membundar. Runjung serbuk sari masak 4–6 × 1,2–1,4 cm; runjung biji masak berbentuk bulat telur, 9–10,5 × 7,5–9,5 cm. Damar juga tumbuh secara alami di hutan hujan dataran rendah sampai ketinggian sekitar 1.200 m dpl. Namun di Jawa, tumbuhan ini terutama ditanam di pegunungan. 

C. Sebaran 
    Pohon damar (Agathis dammara (Lamb.) Rich.) adalah sejenis pohon anggota tumbuhan runjung (Gymnospermae) yang merupakan tumbuhan asli Indonesia. Damar menyebar di Maluku, Sulawesi, hingga ke Filipina. Di Jawa, tumbuhan ini dibudidayakan untuk diambil getah atau hars-nya. Getah damar ini diolah untuk dijadikan kopal. Dan damar juga tumbuh di hutan hujan tropisdataran rendah hingga ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. 

 D. Morfologi 
   Kayu damar berwarna keputih-putihan, tidak awet, dan tidak seberapa kuat. Di Bogor dan diSulawesi Utara, kayu ini hanya dimanfaatkan sebagai papan yang digunakan di bawah atap. Kerapatan kayunya berkisar antara 380–660 kg/m³. Kayu damar diperdagangkan di Indonesia dengan nama kayu agatis. Pohon damar juga disukai sebagai tumbuhan peneduh taman dan tepi jalan (misalnya di sepanjang Jalan Dago, Bandung). Tajuknya tegak meninggi dengan percabangan yang tidak terlalu lebar. 


     Pohon Damar, atau disebut juga Dammar Raja, merupakan salah satu pohon asli Indonesia dan penghasil utama getah damar. Getah damar ini yang kemudian diolah menjadi 'kopal' dan dijadikan bahan baku berbagai industri. Pohon damar (Agathis dammara) merupakan tanaman asli Maluku, Sulawesi, dan kepulauan Filipina. Namun kini telah dibudidayakan di berbagai tempat lain termasuk di pulau Jawa. 
      Pohon damar di beberapa daerah disebut sebagai kaláne, kèssi, oeneëla (Muluku); dammar lulu atau dammar malolo (Sulawesi). Selain dinamai damar, kerap di Indonesia disebut juga sebagai damar raja. Dalam bahasa Inggris tanaman ini dikenal sebagai amboina pitch tree atau celebes kauri. Nama latin tumbuhan ini adalah Agathis dammara (Anak Domba). 

 E. Budidaya 
    1. Penentuan Lokasi 
      Tempat yang tepat untuk tumbuhnya pohon damar yaitu ruangan di ketinggian diatas 400mdpl, bercurah hujan tinggi sepanjang th., dan punyai tanah yang subur. 
   2. Pembibitan 
    Pembibitan dapat dijalankan dari biji atau dari anakan yang ada di sekitar pohon damar. Pembibitan dari biji lebih diutamakan karena kualitasnya lebih baik. buat pembibitan lewat biji, dibutuhkan biji tua berkualitas tinggi tanpa ada cacat. Biji disemai didalam polibag berukuran ½ kilo yang telah di isi dengan tanah yang subur serta di beri pupuk. Polibag mesti disusun rapi di bawah naungan agar media semai tdk cepat kering dan benih bisa tumbuh secepatnya. Perawatan dilaksanakan dengan penyiraman setiap sore dan pembersihan gulma dengan teratur. Selain itu, butuh ditunaikan seleksi bibit yang tidak bisa tumbuh dengan baik. sesudah berusia kurang lebih 1 tahun, bibit siap tanam. 




    3. Persiapan Lahan 
      Budidaya damar bisa ditunaikan melalui langkah tumpang sari dengan tanaman sela berbentuk tanaman pangan atau holtikultura. Untuk persiapan lahannya, perlu dijalankan pengolahan tanah dengan pembersihan lahan, penggemburan, dan pemilihan titik-titik penanaman damar. Pada awal penanaman, tanaman damar perlu naungan. oleh sebab itu, mesti dipersiapkan tanaman naungan yang cepat tumbuh. Biasanya difungsikan akasia atau kemlanding menjadi tanaman naungan itu. Tanaman naungan ini hanya berbentuk sementara kira-kira 2 tahun. Sesudah damar tumbuh besar, jadi tanaman naungan ini dapat ditukar dengan tanaman sela seperti buah-buahan dan sayur-sayuran. 
     4. Penanaman 
      Penanaman ditunaikan di awal musim hujan yang merupakan sementara baik buat menjamin ketersediaan supply air makanya bibit dapat tumbuh dengan baik sampai pohon jadi kuat. Dalam penanaman mesti benar-benar di ambil bibit yang siap tanam dengan situasi yang baik. Penanaman harus dilakukan dengan hati-hati biar bibit tak rusak, khususnya waktu menyobek polibag agar jangan sampai menyebabkan kerusakan akar pohon. Untuk penanaman tanaman sela, dijalankan sama sesuai kepentingan tanam tanaman sela yang di ambil. Pemilihan tanaman sela mesti dikerjakan dengan menyimak perputaran tanaman. Sistem tumpang sari begini juga akan memberikan faedah lebih pada petani dikarenakan dapat mendapatkan pendapatan dari tanaman sela selagi menunggu tanaman damar siap panen. 
     5. Pemeliharaan 
        Pemeliharaan mendasar yang dilaksanakan yaitu penyulaman andaikan ada pohon yg mati serta penyiangan ruang lahan dari gulma-gulma pengganggu. Penyulaman dilakukan diawal masa tanam hingga berapa minggu. utk penyiangan gulma, secara prinsip cuma diperlukan sampai pohon damar tumbuh cukup besar serta sudah tidak terganggu sekali lagi oleh tumbuhan-tumbuhan lain yang berada disekitarnya. Tetapi akan tambah baik seandainya penyiangan dilakukan lebih teratur agar lantai rimba lebih bersih makanya akan tambah enteng dalam perawatan tanaman sela dan juga kala panen kelak. Penggunaan tanaman sela rata-rata tidaklah terlalu lama, kisarannya yaitu usia 4 tahun. Selama masihlah ada tanaman sela, pohon damar tidak perlu diberikan pupuk. sehabis tiada tanaman sela, baru diberi pupuk utk menjamin ketersediaan nutrisi serta pohon damar bisa tumbuh dengan maksimum. 

 2.2 Manfaat Damar 
       Salah satu sumber dari HHBK yakni getah dari kayu damar. Melihat potensinya yang melimpah di Indonesia getah kayu damar dijadikan salah satu tanaman hutan yang mampu memberikan produksi baik kayu maupun hasillainnya (bukan kayu). Dari pohon ini dihasilkan getah yang memiliki kualitas tinggi yang dikenal dengan nama damar. Damar biasanya dimanfaatkan kayunya karena mempunyai nilai jual yang cukup tinggi, terutama digunakan untuk pertukangan. Selain itu, manfaat pohon damar yang lainnya yaitu; sebagai mata cincin, bahan campuran minyak wangi atau parfum, sebagai lem, sebagai venis, sebagai kayu penyangga atap rumah, sebagai hiasan dan juga peneduh, penyedia oksigen, dan lain-lain. Pada pulp dan kayu lapisnya termasuk golongan awet IVdan awet III dengan berat jenis kayunya sekitar 0,49. 
     Nama damar sendiri diambil karena pohon ini memproduksi kopla (getah) atau yang biasa kita sebut dengan “damar”. Di Jawa, tumbuhan ini dibudidayakan untuk diambil getah atau hars-nya. Getah damar ini diolah untuk dijadikan kopal (hasil olahan getah atau resin yang disadap dari batang damar). Selain fungsinya sebagai tanaman ”paru-paru kota” dan komoditas penting untuk hasil hutannya, pohon damar juga mulai menarik perhatian para ilmuwan dalam hal pengembangan obat anti Alzheimer. Penyakit alzheimer sendiri merupakan gangguan saraf di otak yang diakibatkan oleh penyumbatan aliran darah yang menuju ke otak. 

 2.3. Bentuk Manfaat Ekonomi Yang dihasilkan Damar 
       Ada dua macam damar yang dikenal umum, dengan kualitas yang jauh berbeda. Pertama adalah damar batu, yaitu damar bermutu rendah berwarna coklat kehitaman, yang keluar dengan sendirinya dari pohon yang terluka. Gumpalan-gumpalan besar yang jatuh dari kulit pohon dapat dikumpulkan dengan menggali tanah di sekeliling pohon. Di seputar pohon-pohon penghasil yang tua biasanya terdapat banyak sekali damar batu. Kedua, adalah damar mata kucing; yaitu damar yang bening atau kekuningan yang bermutu tinggi, sebanding dengan kopal, yang dipanen dengan cara melukai kulit pohon. Sekitar 40 spesies dari genus Shorea dan Hopea menghasilkan damar mata kucing, di antaranya yang terbaik adalah Shorea javanica dan Hopea dryobalanoides. Damar Batu Idealnya, getah damar di-unduh (dipanen) satu bulan sekali, untuk mendapatkan hasil terbaik. Dalam usia satu bulan getah damar sudah dalam kondisi ideal; keras dan tidak lengket. Dalam kondisi seperti inilah getah damar mendapatkan harga tertingginya. 

                                                               Damar Kopal / Hitam

     Getah damar usia kurang dari satu bulan umumnya kurang keras dan lengket, dalam kondisi seperti ini, biasanya getah damar tersebut dihargai murah. Namun karena desakan ekonomi, kadang-kadang petani mengunduh damarnya pada usia muda. Damar Kopal Jika harga sedang baik satu kilo gram damar bisa mencapai harga Rp.10.000. Jika satu hektar bisa menghasilkan sebanyak 2 kuintal, maka petani bisa mengantongi penghasilan sebesar Rp.2 juta. Jumlah itu sudah sangat berarti mengingat damar bukan satu-satunya sumber penghasilan mereka. Dalam kondisi seperti inilah, masyarakat tani pengelola ghepong damar memandang nilai ekonomi ghepong damar mereka. Damar Mata Kucing Ketika krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1977-1978, para petani pengelola ghepong damar justru memperoleh nikmat karena, pada saat itu, harga damar satu kilo gram mencapai Rp.15.000. 

Damar Batu

     Pada saat krisis tersebut, petani pengelola ghepongdamar relatif tidak merasakan imbasnya. Mereka malah bisa berpoya-poya menikmati harga damar yang tinggi. Pada waktu itu, justru lebih banyak petani damar yang membeli sepeda motor baru, dibanding saat ini. Rendahnya harga getah damar di tingkat petani tidak terlepas dari terlalu panjangnya mata rantai tata niaga. Mata rantai tata niaga di mulai dari pedagang perantara yang biasanya membeli getah damar dari petani di hutan/pekon. Dari pedagang ini barulah barang dikirim ke eksportir yang menjualnya ke Singapura dan India. Dari Singapura umumnya getah damar Lampung diekspor ke Eropa dan negara Asia Timur lainnya. Sementara itu, dari India, getah damar dijual ke berbagai negara di Timur Tengah. Mengingat panjangnya mata rantai tata niaga, ketika Pemda Lambar mengikuti pameran tunggal Indonesia di Dubai, Uni Emirat Arab, tahun lalu, pengusaha setempat baru tahu jika damar yang selama ini diimpornya dari India ternyata dihasilkan Indonesia. 

                                                                 Damar Mata Kucing


      Damar adalah salah satu hasil hutan bukan kayu. Pemungutan damar di Sumatera Barat dilakukan oleh masyarakat pedesaan di sekitar areal hutan. Pemungutan ini merupakan mata pencaharian sampingan, tapi hasilnya dapat merupakan salah satu penghasil devisa dan mempunyai nilai ekonomis tinggi sebagai bahan baku industri cat, vemish, lak, tinta, korek api, plastik dan penutup tahan air. Komoditi damar mampu memberikan kontribusi yang besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional dan lowongan pekerjaan. 





                                                                BAB III 

                                                              PENUTUP 



Kesimpulan 
1. Pohon Damar (Agathis dammara) adalah sejenis pohon anggota tumbuhan runjung (Gymnospermae) yang merupakan tumbuhan asli Indonesia. 
2. Damar menyebar di Maluku, Sulawesi, hingga ke Filipina. Di Jawa, tumbuhan ini dibudidayakan untuk diambil getah atau hars-nya. 
3. Damar juga bermanfaat sebagai mata cincin, bahan campuran minyak wangi atau parfum, sebagai lem, sebagai venis, sebagai kayu penyangga atap rumah, sebagai hiasan dan juga peneduh, penyedia oksigen, dan lain-lain. Dan damar juga memiliki manfaat pada bagian kayunya karena mempunyai nilai jual yang cukup tinggi. 
4. Damar mempunyai nilai ekonomis tinggi sebagai bahan baku industri cat, vemish, lak, tinta, korek api, plastik dan penutup tahan air. Komoditi damar mampu memberikan kontribusi yang besar bagi pertumbuhan ekonomi daerah maupun nasional. Damar juga telah mampu membuka aneka aktivitas kesempatan kerja dan kesempatan berusaha dan telah memberikan tambahan pendapatan. 




                                                 DAFTAR PUSTAKA 



http://www.materipertanian.com/klasifikasi-dan-ciri-ciri-morfologi-damar/

https://alamendah.org/2014/08/02/pohon-damar-penghasil-damar-asli-indonesia/

http://www.jurnalasia.com/ragam/pohon-damar/ 

https://jualbenihnangkaterbaik.blogspot.com/2018/05/budidaya-pohon-damar.html 

Alam dkk. 2009. Ekonomi Sumberdaya Hutan. Laboratorium Kebijakan Dan Kewirausahaan                             Kehutanan. Fakultas Kehutanan. Universitas Hasanuddin. Makassar. 

Ariani Dkk. 2011. Bentuk Pengelolaan Sumberdaya Hutan Di Desa Kololio Kepulauan Togean,                     Sulawesi Tengah. Indonesian Green Technology Journal. Teknik Sipil. Minat Perencanaan                   Wilayah Dan Kota. Universitas Brawijaya. 

Bunganagara. 2011. Perbaikan Pertumbuhan Tanaman Damar (Agathis Loranthifolia Salisb.) Dengan             Teknik Lrm (Lateral Root Manipulation) Di Hutan Pendidikan Gunung Walat, Kabupaten                    Sukabumi. Departemen Silvikultur. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 

Danu dkk. 2011. Uji Stek Pucuk Damar (Agathis Loranthifolia Salisb.) Pada Berbagai Media Dan                   Zat Pengatur Tumbuh. Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam. Balai Penelitian                         Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan. Gunung Batu. 

Karyono dkk. 2010. Suatu Kajian Tentang Produksi Dan Ekonomi Damar Di Sumatera Barat.                          Buletin  Penelirian Hasil Hutan.

Makalah Sosiologi Kehutanan                                                                          Medan,      Oktober  2019 ASPEK-ASP...